Beberapa hari yang lalu aku ngobrol dengan saudariku yang lagi S2 di King Saudi University lewat YM. (Saudariku ini dulu temen seperjuangan di kost, kampus, dan DKM. Aku lebih sering memanggilnya dengan sebutan mbak)
Karena sudah lama ga ketemu, akhirnya kami bercerita panjang lebar.
Mulai dari kehidupan di Saudi, makanan disana, tentang TKI dan TKW, hingga masalah keistiqomahan.
> tentang Kampus KSU (King Saudi University).
Kampusnya guedhe dan dipisah ikhwan sendiri, akhwat sendiri. Jadi kalo di kampus akhwat ga bakal ketemu sama ikhwan dan sebaliknya. Seneng ga ada ikhtilat2. Kampus antara ikhwan dan akhwat berjauhan. Semua urusan di Saudi always dipisah ikhwan dan akhwat, hanya tertentu aja yang ga di pisah, kaya rumah sakit dan supermaket. Bahasa pengantar yang kita pake bahasa inggris. All of our friends in class is saudian or middle east girl. Kalo di kampus male mungkin lebih beragam, karena KSU lebih banyak nerima male ketimbang female.
Tahun 2007, dari 30 mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa KSU, temenku adalah salah satu diantara dua female ( 2 female, 28 male )
> tentang Kehidupan di Saudi
Kebanyakan akhwat mengenakan abaya (jubah dan kerudung hitam) dan bercadar. Most of female bekerja di rumah sakit dan di sekolahan, di bandara ada juga female dan tapi sebagian besar adalah male, kalaupun ada female itu untuk security. Akhwat tidak boleh pergi tanpa mahram (suami, kakak, bokap, uncle, pokoknya mahram). Jadi biasanya mahasiswi perginya cuma ke university, dormitory, hospital and library. Kalo pun mau shopping harus ama supervisor and tidak bisa sering2. Embasssy mestinya ngasih transport, tapi Embassy Indonesia di Saudi kurang bagus. Seperti kasus yang banyak dialami oleh tkw. Tinggal di Dormitory seperti tinggal di “penjara”, nda bisa kemana2. Kalaupun ada yang mau berkunjung, juga susah ngaturnya. Kalo temen kuliah mungkin masih bisa. Kalau saudara butuh surat, surat and surat. Nama Indonesia di Saudi nda begitu bagus, jadi penjagaannya lumayan ketat. Dan di sana ga bisa terlalu menuntut.
Oya, hari libur di Saudi itu hari Kamis dan Jumat.
Bandingin waktu di Bogor dulu mb, ngelab sampe malem, jam 21 masih di terminal mw pulang ke rumah, kirim tugas dan nyari jurnal di warnet sampe jam 23/24. He..he.. sekarang ga bisa bandel lagi kaya dulu.
Ya Bersyukurlah… karena kondisi seperti itu jadi lebih terjaga.
> tentang Makanan di Saudi
Di Saudi ada nasi warna warni. Ada yang cokelat, oranye, krem, campur2. Dicampur sayuran, pala, cengkeh.. uhhh pokoknya rameee. Pertama kali makan, rasanya amburadul. Secara emang bukan dari indo dan belum biasa makan kaya gitu. Tapi setelah 4 bulan di Saudi, jadi terbiasa.
> tentang keistiqomahan
“istiqomah itu muahal ya ndukk..!” kata mbakku itu, ketika kami berbicara tentang keistiqomahan.
Ketika kita berada ditempat yang kondusif, diantara teman2 yang selalu mendukung dan mengingatkan, terasa lebih mudah untuk menjaga keistiqomahan.
Tapi, semestinya kita siap menjaga keistiqomahan everywhere and everytime.
Mungkin kasusnya seperti ini
ketika berada di tempat yang baru, seseorang yang dulunya biasa disibukkan dengan amanah2 yang menyita waktu, kini merasa jadi pengangguran karena belum mendapat “amanah”. Akhirnya dia terlena dengan kekosongan waktu, melewatkan bilangan hari dengan melakukan hal yang sia2.
Atau sebaliknya, ketika seseorang disibukkan dengan pekerjaannya di kantor. Sampai mencari waktu untuk
sekedar sejenak membaca al-Quran saja begitu susah. Dia terlalu sibuk mengejar karir dan kewajiban profesinya, padahal ada kewajiban lain yang harus dia penuhi. dan akhirnya muncullah penyakit Futur.
Untuk menjadi istiqomah ga perlu menunggu orang lain, menunggu halaqah/majelis ilmu, nunggu amanah baru, dan nunggu punya waktu luang.
Ketika kita menemui hal yang baru dalam episode kehidupan ataupun dalam aktivitas dakwah kita, yang menurut kita tidak biasa. Kita harus menghadapinya. Saat itu mungkin Allah pengen kita belajar ilmu yang baru, dan Allah juga pingin agar kita berdakwah dengan cara lain.
Ya, kita bisa belajar lewat apa saja.
Dan Kita juga bisa berdakwah dimana saja.
Kata mbakku :”Yah yang paling penting semangatmu mencari ilmu Islam nda boleh pudar, sembari menggali ilmu informatika dan ilmu yang lain. Karena “keyakinan” terhadap syurga dan neraka akan tetap jelas ketika kita mengupdate ilmu kita. Sama kaya anti virus. Semakin sering di Update, dia semakin kuat(he..he). Kata ustad, iradah or kemauan yang kuat lahir dari ilmu yang menghujam, alias ilmulah yang akan menguatkan keyakinan kita. Surga itu terserah anti, bukan masalah “sempet” apa nda, tapi “mau” apa nda? Jangan nunggu diberdayakan, tapi berdayakan diri kita. Amal sekecil atom yang anti rajut tanpa seorang pun yang tau, insyaAllah akan melapangkan jalan ke Syurga”
Subhanallah.. setelah ngobrol dengan mbakku itu, aku jadi dapat pencerahan. Jadi semangat untuk lebih giat belajar lagi. Belajar mencari makna untuk mngukir keistiqomahan.
Mbak, jazakillah atas nasehat dan sarannya..
Ya.. Muqollibalqulub..tsabit qolbi ‘ala dinika.
Wahai Sang pemilik hati.. tetapkanlah hati ini pada DienMu..
amin..
benar2 obrolan yg bermanfaat mif, jazakillah dah mengingatkan dgn memposting tulisan ini, aku jd kangen saudari2 di bogor
.. keep fighting..
hmm.. jadi malu ni miff..
blognya kerenn bgt,,, stlah membcaX maka dpt menambah ruhiyahQ lg,
masih belajar menuliskan pengalaman dan apa saja yg sekiranya bermanfaat.. Terimakasih atas kunjungannya..