Hari-hari bersama Keluarga Sasa.. (part two)

Jumat 22 Februari 08
Acara Sasa hari ini berbeda dengan hari2 sebelumnya.
Kali ini Sasa mengadakan “Motivation training” untuk semua siswa siswi Binatama.
Ya.. sebuah acara yang cukup menarik..
Tujuan dari training ini adalah membantu temen2 untuk mengetahui “sebenernya, Siapa sih gue..?”, menyadari potensi luar biasa yang mereka miliki dan memotivasi mereka untuk menjadi seperti apa yang mereka cita2kan.

“Cita-cita kalian mau jadi apa?” tanya sang trainer.

“Pengusaha.., direktur Hotel.., Polwan.., Orang Sukses..” jawab teman2.

“ada yang punya cita2 lain..? tanya sang trainer lagi

“jadi Manten..” celetuk Bu Wis, salah satu Guru di Binatama.

spontan kami semua tertawa..

Subhanallah, dibalik kesederhanaan itu, mereka mempunyai sebuah cita2 besar.

Jumat 29 Februari 2008
Pagi ini Yogyakarta diguyur hujan. Memang sekarang lagi musim hujan.
Cuaca yang tidak bersahabat membuatku malas untuk keluar rumah. Nikmat sekali kalau pagi ini dipakai buat tidur, memakai selimut hangat.
Tapi aku harus pergi ke BinaTama, tak peduli dengan hujan..

Aku teringat dengan sms dari temenku di Jakarta yang aku terima ditengah rintik hujan.

“Jakarta hujan gerimis dan matahari tertutup cahaya.
Sehingga wajahnya tampak muram memancarkan kesedihan.
Aku berdoa semoga kau disana,
Allah tidak berikan wajahmu seperti matahari Jakarta sekarang,
sehingga kau bisa berikan senyuman terindah untuk dunia, karena banyak luka yang dunia alami sekarang, disekitarmu, atau belahan bumi nan jauh disana.”

Aku kembali bersemangat untuk berangkat.

Setengah jam kemudian aku telah sampai di Binatama.
Senang sekali hari ini bisa bertemu dengan mereka. Seperti biasanya, sebelum mulai kajian, kami sholat dhuha dulu. Selain aku, ada Mba Tari, Mba Isse, dan Pak Afif.

Hari ini jumlah siswa yang hadir lebih sedikit. Ya, aku cuma berhadapan dengan 2 orang. Ika dan Mira. Saat berada didepan mereka, aku menangkap wajah lesu, tak seperti biasanya. Akupun bertanya “ada masalah ya..?”. Salah satu dari mereka menjawab “males mba’, habis ini pelajarannya bahasa Indonesia, sekelas cuma dua orang lagi..yang masuk. Kan jadi ga semangat..buat sekolah “. Akupun tersenyum menghibur mereka “Ga usah sedih.. Kalian ini orang2 yang hebat.. Percayalah bahwa pengobanan kalian ga akan sia2.. Inget kan dengan cita2 kalian kemarin? Kalian harus berjuang.. ga boleh menyerah..!”
Akhirnya merekapun tersenyum, tak lagi sedih. Kamipun melanjutkan kajian membahas tentang akhlak terhadap Rasul.

Terima kasih yaAllah, hari ini kau pertemukan aku kembali dengan mereka..
Sekali lagi, aku kembali belajar dari mereka.
Belajar tentang semangat dan pengorbanan.
Ya.. jika kita menginginkan sesuatu, kita harus berusaha untuk mendapatkannya..
Sebuah kesuksesan tidak akan datang dengan sendirinya, jika kita hanya berdiam diri.
“..Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sehingga  mereka yang merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Ar Ra’d 11).

Wallahu ‘alam.

Hari-hari bersama Keluarga Sasa.. (part one)

Sudah sebulan aku punya keluarga baru. Lebih tepatnya aku baru bergabung dengan temen2 di Keluarga Sasa. Apa itu Sasa?

Sasa itu salah satu merk penyedap masakan bukan?
Ga salah tuh mif.., bukannya kamu paling anti sama yang namanya vetsin atau penyedap masakan? Sampai2 Mas Penjual Capcay-nasi goreng yang deket kosan itu hafal kalo kamu beli di situ. “Mas pesen Capcay rebus satu, pedes, pake nasi ya, dibungkus..” belum selesai aku ngomong,
penjual Capcay menyahut “ga pake vetsin kan Mba..”.
Hehe, tanpa ku bilang, masnya udah hafal..

Biasanya klo kebanyakan makan vetsin, kepalaku pusing.
makanya aku lebih memilih untuk memesan makanan tanpa vetsin
Salah satu bentuk pencegahan dan untuk menjaga kesehatan.

Balik lagi ke Sasa ya.. ;)

Sasa adalah kepanjangan dari “Sahabat Siswa”, nama sebuah keluarga kecil yang mengelola pembinaan siswa-siswi di SMA Binatama.

Saat ini Personil Sasa terdiri dari 6 orang yaitu Pak Meizar(T.Elektro UGM’O3), Pak Afif Rakhman(Elins ‘03), Pak Wahid(P.Fisika UNY ‘03), Mba Tari (Psi UGM ‘03), Mba Isse(Qmia UGM’03), dan yang paling bungsu adalah Mifta.
2 minggu lalu masih ada satu orang personil lagi yaitu mba Liza, tapi karena ada amanah lain di Palembang beliau harus pergi meninggalkan Sasa.

Keluarga Sasa diberi kepercayaan oleh pihak sekolah, untuk mengisi kegiatan pembinaan siswa siswi SMA Binatama. Binatama adalah sebuah SMA swasta yang berada di jalan Monjali. Setiap hari Jumat pagi kami berkumpul temen2 binatama untuk bersama mengkaji keindahan Islam, selama kurang lebih 1 jam.

Ya, Aku sangat senang bisa bergabung bersama Keluarga Sasa. Aku bisa belajar banyak hal dari mereka, dan lebih bersemangat untuk lebih baik lagi. Aku berharap, semoga aku bisa melakukan yang terbaik bersama Sasa.

Hari hari bersama Sasa


Jumat 16 Februari 08

Pertemuan perdanaku dengan teman2 binatama. Pertama kali aku menginjakkan kaki di SMA Binatama, aku merasakan kesejukan. Aku teringat dengan SMA-ku dulu, temen2ku dan Guru2ku. Aku juga teringat dengan SMP Yapis Bogor, tempat dimana aku bercengkrama dengan adik2 SMP yang lucu dan bandel ketika aku bergabung bersama di Tim Jumen ILNA Yosen, 3 tahun yang lalu.

Kegiatan kami pagi itu, diawali dengan sholat Duha di Mushola, setelah itu baru dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan kelasnya. Tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Aku kira, aku akan berhadapan dengan banyak siswi, ya mungkin sekitar 15-an orang (karena sebelumnya ada pemberitahuan bahwa aku akan memegang satu kelas). Ternyata setelah berkumpul, aku hanya menjumpai 4 orang. Ada Echa, Ika, Santi, dan Yanti. Aku sama sekali tidak kecewa. Akhirnya selama kurang lebih setengah jam kami terlarut dalam cerita, obrolan dan sharing ilmu tentang bagaimana mencintai Rasul.
Ternyata memang jumlah siswa di BinaTama lebih sedikit, dibandingkan dengan SMA lain yang rata2 jumlah siswa per kelasnya adalah 40 orang. Di BinaTama setiap kelasnya hanya terdiri dari belasan/20an siswa. Dan Sekolahan itu hanya punya 5 kelas(1 kelas 10, 2 kelas 11, dan 2 kelas 12).

Setelah acara dengan para siswa selesai, kami dipersilahkan untuk istirahat di Ruang Guru, sambil minum teh. Subhanallah meskipun baru sekali bertemu, aku merasa sudah sangat akrab dengan para guru di sana. Salah seorang guru bercerita tentang pengalaman masa lalunya sewaktu kuliah. Bagaimana mereka harus hidup prihatin sebagai anak kosan. Beliau berpesan untuk terus berusaha menjadi orang berhasil dan tidak mengecewakan orang tua.
Terima kasih bu Wis..
Terima kasih Ya Allah..

Hari ini aku mendapatkan sebuah pelajaran tentang kesederhanaan..

(to be continued.. )