Hujan dan wajah dari masa lalu..

Titik-titik hujan merangkai lukisan di kaca jendela…

Hujan senantiasa memberi inspirasi-inspirasi tak terduga.
Bisa dari harmonisasi titik-titiknya,
Semerbak harumnya tatkala bersatu dengan tanah,
juga dari perpaduan gerak tetes-tetesnya membentuk gambar lembut di mana-mana.
Bias-bias itu mewujud di kaca jendela; di tiap helai daun hijau di luar sana, dan di hati saya.
Yang di hati saya, entah mengapa, menghadirkan sekian episode masa lalu.
Berputar seperti film dokumenter. Begitu hidup. Begitu dekat. Seperti baru kemarin.

Titik-titik hujan melagukan tema masa lalu…

Bicara soal hujan, saya menyebutnya bicara soal takdir.
Seperti turunnya hujan ke bumi, menjadi penyubur dan penyejuk,
sekaligus menjadi bencana dan klausal penyakit, maka masa-masa yang kita lewati juga adalah kehendak-Nya.
Karena kehendak-Nya pula, momen-momen masa lalu saya sepertinya lekat dengan hujan.
Tadinya saya pikir, sayalah yang terlalu ’romantis’.
Tapi berkali-kali saya jatuh cinta, semuanya punya kenangan dengan hujan.
Itulah, sehingga kini, setiap hujan turun ke bumi, tema masa lalu itu terputar kembali dengan jelas di otak saya.

Titik-titik hujan menyadarkan kepada saya tentang sudah begitu lama semua berlalu…

Ya, sudah berapa ribu kali musim hujan saya lalui,
Sudah berapa nama mengukir cerita hujan di hati saya.
Ah, ternyata waktu sudah begitu lama berlalu tanpa saya sadari.
Rasanya, terakhir musim hujan berlalu,
adalah terakhir saya mendapat keputusan bahwa seseorang yang saya kira bisa menemani saya meniti hidup, ternyata bukan takdir saya.
Saya cukup bingung,
membedakan deras titik hujan dengan tetesan air mata ekspresi saya.
It’s Human being. Betulkah?
Lalu saya juga ingat musim hujan terakhir saya merasa amat damai kala mencintai seseorang, empat tahun lalu.
Meski akhirnya pun saya menyadari damai itu bukan milik saya.

Memang cinta itu bukan hak; terpupuk sendiri bukan dalam kerangka pernikahan, walaupun juga tidak dalam konteks hubungan laki-laki-perempuan sekarang umumnya.
Segala rasa cinta itu sungguh cuma sampai di hati.
Tak ada komitmen apa-apa.
Bahkan mungkin seseorang itu tak tahu ada cinta dari saya untuknya.
Tatkala semua harus diakhiri, tak lain dan tak bukan, saya tidak bisa berbuat apa-apa.
Cuma terpana.
Takdir Allah belum menyatukan saya dengan seseorang.
Tersadar bahwa sekuat dan secanggih apapun manusia merekayasa,
Allahlah sang empunya rekayasa.

Titik-titik hujan mengajarkan saya menikmati setiap kehilangan…

Demikianlah saya menjadi terbiasa kehilangan.
Perihnya tetap sama.
Tapi perlahan, pedih perih itu menjelma menjadi nikmat.
Nikmat bersabar, nikmat mencari hikmah dengan menghayati luka itu sendiri.
Mengapa kita mesti protes ketika kehilangan cinta yang notabene titipan Allah dan sama sekali bukan milik kita?
Bukankah awan tak pernah protes dengan kandungan airnya yang berkurang agar hujan dapat turun ke bumi?
Biarlah Allah saja yang menggantikannya dengan lebih baik.

Wajah-wajah masa lalu itu tinggal abadi di album hati saya.
Seperti slide yang otomatis terputar kapan saja saat hati ini kosong.
Sama sekali saya tidak benci hujan.
Justru lewat hujanlah saya bisa mengukur keadaan hati saya.
Apakah saya kembali tergoyang saat suasana hujan memutar kembali film-film legenda itu, ataukah saya menjadikannya sebagai bahan evaluasi agar suatu saat tak lagi terjebak dalam rekayasa-rekayasa bayangan sendiri.

Disitulah kehilangan menjadi bermakna.
Bukankah kedewasaan itu datang setelah kita bisa mengendalikan diri kita?
Misalnya mengendalikan diri untuk tetap tabah, tidak merutuki takdir Yang Kuasa,
dan senantiasa tegar melangkah.
Kehilangan mengajarkan kita untuk istiqomah
dan untuk menjalankan kembali segala sesuatu dalam hidup.
Kita tidak harus menangisi setiap kehilangan terus menerus.
Hidup harus tetap berjalan.
Dengan demikian, kita telah mencoba menawarkan perasaan.
Agar tidak terlampau pekat lagi rasa kehilangan itu.
Agar musim hujan berikutnya kita bisa lebih ikhlas.
Dan ikhlas adalah obat semua luka.

Titik-titik hujan memanggil sensitivitas hati saya…

Itu yang saya rasakan setiap menikmatinya.
Entah mengapa,,
Tapi sepertinya muhasabah (evaluasi) diri saya bisa lebih bermakna bersama sang hujan. Lebih sensitif.
Terakhir saya menyaksikan pemutaran film dokumenter tentang wajah-wajah masa lalu itu, saya mendapat penyadaran.
Betapa sudah lama saya tidak jatuh cinta lagi.
Bagaimana rasanya pun sepertinya saya sudah lupa.

Oleh karenanya, ada hikmah yang bisa saya tarik.
Bahwa rekayasa manusia tidak selalu cocok dengan rekayasa Tuhan.
Termasuk rekayasa jatuh cinta seorang manusia,
belum tentu cocok dan benar dalam pandangan Sang Kekasih.

Lalu mengapa tidak kita -dan saya juga tentunya- coba berlaku seperti hujan.
Riuhnya mengalir seperti irama tasbih, tunduk pada skenario Allah.
Hujan tak pernah merekayasa jatuhnya.
Toh hujan tetap bermanfaat, tetap manis, tetap syahdu.

“Saat terluka karna kehilangan cinta yang belum menjadi hak milik kita,
segeralah sadar bahwa.. Begitu baiknya Allah pada kita.
Ketika kita salah melangkah,
Ia menjewer kita dengan cinta, tidak dengan murka.
Ia memaafkan hamba-Nya dengan lapang.
Kira-kira, bisa tidak ya, kita berlaku sama terhadap orang yang melukai kita?
Ternyata jawabannya bukan bisa atau tidak, tetapi mau atau tidak.
Soal kemauan, ya? Iya.
Biarlah luka itu menuntun kita bersyukur.
Bahwa, dengan luka kita beroleh hikmah.
Lalu hikmah menjadikan kita memandang semuanya dengan husnuzhan (prasangka baik).
Dan husnuzhan menjadikan kita pemaaf.”

Terima kasih Tuhan,
untuk hujan yang merupakan setitik dari selautan luas cinta-Mu pada kami.
Terima kasih telah mengajari saya mencintai dan memaknai sesuatu.
Terima kasih untuk menjaga saya dalam hikmah.
Terima kasih untuk masa lalu yang membuat saya dewasa….

Selautan syukurku tak sebanding cinta-Mu, Tuhan..*)

*) Tulisan ini aku kutip langsung dari buku ”Berbagi Bening Cinta”, Catatan Seorang Ukhti 3 buah karya Ifa Avianti.

Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan perenungan,

bagi orang yang hatinya sedang terluka pada musim hujan ini,
atau bagi siapapun yang ingin mencari makna hidup lewat hujan.

Ya, kita bisa belajar dari hujan
tentang kesabaran, keikhlasan, dan kedewasaan.

Aku tertarik memposting tulisan ini karna kebetulan, saat musim hujan akhir-akhir ini aku mendengar beberapa kisah tentang luka hati dari orang-orang di sekitarku

dan aku juga pernah mengalami perasaan kehilangan.., tapi bedanya aku kehilangan cinta dari seorang saudari yang sangat aku sayangi. Semoga Allah memaafkan kesalahanku.
La tahzan broo.. n sist.
We’ll never walk alone.. Allah bersama kita.
Semoga luka hati itu bisa segera sembuh.

Setiap orang pasti punya kisah masa lalu. Dan dari masa lalu kita bisa belajar untuk menjadi lebih baik di esok hari.

Bicara tentang hujan, apakah makna hujan bagi Anda?
Ada yang berkenan sharing pendapatnya? 😉

Advertisements

7 thoughts on “Hujan dan wajah dari masa lalu..

  1. amaliasolicha

    hmm.. ketika melihat hujan..
    kondisi hati memang terasa berbeda *mellow mode on
    terkadang benar adanya..
    bayang-bayang nya berkelebat muncul..
    entah mengapa??

    fitrah manusia…mencintai dan dicintai..
    bertemu dan berpisah,,
    kehilangan…

    namun benar adanya juga..
    waktu2 sperti itu nikmat sekali dirasakan
    betapa Allah menyayangi hambaNya..
    Ia tidak rela cintaNYA di duakan..
    Ia menegur kita, bukan..bukan menegur..tapi membelai..

    Sadarlah aku..
    bahwa tiada yg lebih kekal selain CintaNYa..
    cinta karenaNya..
    kehilangan..itu fitrah manusia..karena manusia benar2 tidak punya sesuatu yg benar2 akan dia miliki seumur hidupnya..
    smuanya hanyalah milikNya..

    Manusia hanya bs berusaha..
    jika itu bukanlah yg terbaik
    maka ia takkan Allah dekatkan untuk kita

    Setiap kejadian yg Allah takdirkan
    pasti ad hikmahnya..
    Bukankah ini Benar2 sebuah tarbiyah bagi kita..

    Jazakillah dah ngingetin.. 😉
    Smoga Allah berkenan melapangkan hati-hati kita, terlebih lagi dirimu saudariku sayang :), keep on struggling njeh.. 😉

  2. rickisaputra

    hujan memang benar2 berkah, pnyejuk, dan peluruh segala hal buruk.. (semoga saja slalu bgitu)..

    *ulasan yang amaaattt pannjaaangg yah.. pdahl hanya tntang titik2 hujan.. blum lagi awan, air, langit biru, dkk..

    nice entry.. best regard

  3. @mba Amel
    Waiyaki..
    alhamdulillah..mba.. sekarang sudah lebih baik, “dia” telah kembali.

    @bejho..
    hujan memiliki makna tersendiri bagi masing orang..
    bagi petani hujan adalah karunia yang besar,
    bagi bocah yg senang bermain hujan, hujan adalah sesuatu yg menyenangkan,
    bisa jadi orang memaknai hujan sesuai dengan kebiasaan yang dia lakukan disaat hujan atau bagaimana dia memanfaatkan hujan itu sendiri..

    @rickisaputra

    Ya.. semoga selalu begitu.

    “Allah menciptakan semua yg ada di langit dan di bumi tidak dengan sia2.
    Semoga kita termasuk kedalam orang2 yang senantiasa bersyukur dan berfikir akan kebesaran-Nya”

    *panjang ya… :D, sebenarnya masih bisa lebih panjang lagi..

    @Aan..
    ini tulisannya mba Ifa Avianty..
    mifta cuma sedikit nambah kata2.

    makasih yak atas kunjungannya..

  4. herry suganda

    hujan yang bener2 membuat hati herry tersentuh yaitu saat adegan hujan di film My Girl And I… saat itu cinta bersemi diantara mereka tepat saat hujan turun.

    benar2 menyentuh hati…

    makasih ya… hati herry dah terobati dengan tulisan ini (rujukan dari mifta langsung loh). Insyaallah herry bisa melakukan hal yang sama seperti orang yang menulis tulisan diatas…

    makasih mif…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s