10 Kiat menggapai kesuksesan dan kemuliaan

Alhamdulillah, kemarin diberi kesempatan ikut kajian jelajah hatinya Ust. Syatori Abdul Rauf di Darush Shalihat. izinkan saya berbagi dengan teman2 melalui catatan ini. Bismillah.. Semoga bermanfaat

“Tempat apakah yang sering anda rindukan?”

Kira-kira jawaban apa yang terbersit di pikiran kita, ketika ada yang bertanya demikian? 

Mungkin sebagian ada yang menjawab “kampung halaman”..

Ya.. Kampung halaman memang salah satu tempat yg sering kita rindukan.. (tapi tentu saja ini hanya berlaku untuk orang yang pernah merantau.. hehe)

Kampung halaman adalah tempat dimana kita dilahirkan, tempat dimana kita dibesarkan oleh orang tua, tempat yang akhirnya kita tinggalkan demi mewujudkan cita-cta, untuk menimba ilmu ataupun mencari nafkah. Kadang karena begitu besar kecintaan kepada kampung halaman dan orang tua yang tinggal di sana, hingga ada yang punya keinginan untuk kembali dan menetap di kampung halaman, menjemput rizki di sana, dan menikah dengan orang sekampung halaman (padahal katanya ga boleh lho menikah dengan orang sekampung halaman? wah siapa tuh yg bilang ga boleh? Ya iya lah ga boleh prend, masak orang satu kampung halaman mau dinikahin semua.. :D)

Sebenarnya selain kampung halaman tempat kita dibesarkan, ada kampung halaman lain yang lebih layak bahkan ‘harus’ kita rindukan.. Tempat itu adalah Kampung akhirat..

Belajar dari kisah dua bersaudara putra Ummu Sulaim, yaitu Anas bin Malik dan Barra’ bin Malik. Keduanya telah berikrar untuk hidup dalam pengabdian yang tulus kepada Alloh. Anas  telah menjadi pelayan Rasulllah saat usianya baru 10 tahun. Rasul pernah mencium kening (antara kedua mata) serta mendoakannya. Doa Rasulullah telah mengantarkannya menjadi manusia Shaleh dan memberkatinya masuk surga. Barra’, saudara Anas, Ia mempunyai semboyan hidup menuju Alloh dan mendapatkan surga. Ia tidak pernah absen dalam setiap pertempuran. Ia telah memilih cara untuk menyambut kematian, bukan mati di tempat tidur tapi mati syahid di medan pertempuran. Sering Ia jatuh sakit setelah pertempuran, terluka parah terkena berpuluh-puluh tusukan pedang musuh. Baginya, pedang-pedang tentara musuh itu dapat melukai dan merobek-robek tubuhnya, akan tetapi di saat yang sama pintu-pintu syurga telah terbuka memperlihatkan kenikmatan dengan wewangiannya..

SubhanAlloh..Begitu besar kerinduan yang dirasakan Barra’ hingga mengalahkan rasa sakit akibat luka yang dialaminya. Barra’ pernah bergabung dalam Perang Yermanah melawan nabi palsu dan pertempuran di Irak melawan persia dengan kekuatan lawan yg cukup besar, dan ia selalu berada di barisan terdepan. Ia mengalami luka bakar, tangannya hangus tinggal tulang tak berdaging terkena rantai panas ketika menyelamatkan Anas yang saat itu turut serta dalam peperangan, tapi ternyata itu belum mampu mengantarkannya untuk syahid. Kemudian, pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khatab, umat Islam berperang menghadapi Tentara Persia di Tustur. Pertempuran berlangsung cukup lama  karena kekuatan yang seimbang. Dalam pertempuran itu Barra berdoa: “Ya Alloh hancurkanlah lawan Islam dan musuhMu. Tolonglah kami dalam menghadapi mereka. Kemudian pertemukan aku hari ini dengan Nabi”. Allohpun mengabulkan doa Barra’. Umat Islam memenangkan pertempuran, dan Barra syahid dalam pertempuran itu. Para Sahabat menemukan jenazahnya yang tampak sangat bahagia dan menerima nikmat kematian dari Alloh. Wajahnya cerah dan senyum tersungging di bibirnya. Pedangnya yang kokoh kuat tak terpatahkan masih terletak di sampingnya, tak ada goresan apapun yang nampak.

Ya.. dialah musafir yang berperang dari satu medan ke medan lainnya, hanya mengharapkan kesyahidan bukan untuk sebuah gelar kepahlawanan, ia telah berhasil mencapai tingkat perjalanan terakhir. Musafir itu telah sampai ke kampung halaman yang menjadi idamannya.. 🙂

Begitu indah perjalanan seorang Sahabat menuju kampung akhirat. Ia mengakhiri perjalanan hidupnya dengan sukses. Di belahan bumi manapun kita berada, kita semua akan kembali ke satu tempat yaitu kampung akhirat. Dan pintu gerbang untuk memasuki kampung akhirat adalah kematian. Satu kata yang kadang ketika mendengarnya, bukannya kita merasakan kerinduan.. tapi justru rasa takut menyelimuti hati kita.. karena merasa belum mempunyai cukup bekal dan masih banyak dosa yang kita lakukan :(. Bagaimana cara kita menyambut kematian, itu menjadi pilihan bagi masing-masing orang.

Ketika mendengar kabar duka/ berita orang meninggal, kita sadar bahwa kematian adalah hal yang paling dekat dengan diri kita. Tapi seiring berjalannya waktu kita kembali disibukkan dengan hal-hal duniawi, yang menyebabkan kita lupa mengingat kematian. Memang seperti itulah kehidupan dunia, manusia sering dibuat terlena dengan kenikmatan sesaat.

Bersyukurlah, sebagai muslim, kita diberi kesempatan minimal 5 kali dalam sehari untuk mengingat-Nya, dan berdialog dengan-Nya. 5 waktu yang jika kita manfaatkan dengan baik, bisa menjadi tempat istirahat, melepaskan diri dari hiruk pikuk dunia.

Kita tentu mendambakan sebuah kesuksesan dalam menjalani kehidupan dunia seperti kisah Sahabat di atas..

Kunci untuk mencapai kesuksesan dan kemuliaan hidup adalah fokus, fokus kepada tujuan hidup.

Orang yang fokus, hatinya akan dipenuhi kerinduan untuk segera sampai ke kampung akhirat. Ia tidak akan mengalami rasa bosan/ jenuh dalam menjalani hidupnya.. (pernah merasa bosan/jenuh? Nah.. bisa jadi selama ini kita belum bisa fokus dalam mencapai tujuan.. saatnya meluruskan niat.. harus fokus..fokus dan fokus.!!)

Orang yang menyambut kematian dengan hati yang dipenuhi kerinduan kepada kampung akhirat itulah yang disebut Husnul Khatimah. Sedangkan orang yang mati dalam keadaan hatinya masih dipenuhi oleh rasa takjub, terpana, silau dengan segala pesona gemerlap dunia disebut Su’ul Khatimah.

” Perlu kita ingat, bahwa kehidupan di dunia saat ini adalah jembatan penyeberangan menuju kampung akhirat. Teruslah berjalan agar kita sampai ke kampung akhirat dalam keadaan husnul khatimah. “

Lalu dengan apa kita bisa meraih husnul khatimah? Haruskah dengan mati syahid dalam peperangan seperti kisah Shahabat diatas? Mungkin itu sulit dilakukan, tapi bukan berarti tidak ada kesempatan lagi bagi kita. Masih ada jalan lain menuju Husnul khatimah, yaitu dengan menjadi ahli kebaikan. Alloh telah mengaruniai kita aset berharga berupa hati, akal, dan jasad/ badan. Aset tersebut merupakan potensi bagi diri kita, yang jika dimanfaatkan dengan baik akan mengantarkan kita menjadi ahli kebaikan.

Ada 5 langkah yang bisa kita lakukan untuk menjadi ahli kebaikan (disingkat 5a)

  1. Al i’tiraf
  2. An nadmu
  3. Al ‘azmu
  4. Al istighfar
  5. Al himmah

Al i’tiraf

Sedikit mengutip lirik lagu I’tiraf-nya Raihan..

“wahai Tuhan kutak layak ke Surga-Mu..

namun tak pula aku anggup ke neraka-Mu..

dosa-dosaku bagaikan pepasir di pantai.. ”

Al i’tiraf adalah mengakui semua kekurangan, dosa, dan jauhnya diri dari tujuan hidup yang semestinya. Jangan pernah merasa gengsi untuk mengakui kekurangan dan kesalahan yang pernah kita lakukan. Paling tidak kita jujur kepada diri kita sendiri. Cukup Alloh dan diri kita yang mengetahuinya. Tapi jika kesalahan tersebut berhubungan dengan orang lain, kita perlu mengakui kesalahan itu di depan orang yang bersangkutan.

An Nadmu

Setelah mengakui dosa dan kesalahan, langkah selanjutnya adalah An Nadmu, yaitu menyesali semua kekurangan, dosa, dan jauhnya diri dari tujuan hidup yang semestinya. Di sini kita perlu melakukan evaluasi diri. Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, apakah yang sudah kita lakukan selama sehari? Sebulan? Setahun? Dan selama hidup di dunia ini? Lebih banyak amal kebaikan atau justru kita melewati hari-hari dalam hidup dengan kesia-siaan? Ya Alloh.. mengapa di usia saya yang sekarang saya masih seperti ini? Mungkin banyak hal yang tidak kita sadari bahwa saat ini kita telah menjauh dari tujuan hidup yang seharusnya. Misalnya, lebih merasa kecewa ketika tidak bisa menyaksikan pertandingan sepakbola dari pada ketika melewatkan sholat Qiyamul lail? ( sepertinya ini pengalaman pribadi :D, InsyaAlloh tidak ada kata terlambat untuk memperbaikinya kawan..)

Al ‘ Azmu

Al ‘Azmu artinya bertekad untuk meninggalkan semua kekurangan, dosa, dan jauhnya diri dari tujuan hidup yang semestinya.

Al Istighfar

 Memohon ampun kepada Alloh atas semua kekurangan, dosa, dan jauhnya diri dari tujuan hidup yang semestinya. Istighfar adalah lafaz yang sangat dasyat, tidak saja sebagai lafaz memohon ampun tapi juga untuk mengobati kegelisahan dan menyelesaikan berbagai kesulitan hidup. Gelisah karena hati dan jiwa tidak menemukan ketenangan, gelisah karena pintu rezeki terasa sulit, gelisah karena belum bertemu dengan jodoh, atau gelisah karena belum mendapat keturunan? Obat untuk mengakhiri kegelisahan itu adalah dengan memohon ampun kepada Alloh.

Maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”  (QS. Nuh: 10-12)

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat”  (QS. Huud:3)

Al Himmah

 

“berusahalah tuk dunia,  seolah hidup slamanya

beribadahlah tu’ akhirat, seolah esok kan tiada

gapailah sgala cita, dengan asa di jiwa..”

(Limpahan kasihMu, Na’am)

Al Himmah berarti bersungguh-sungguh dalam berjalan meraih cita-cita menjadi ahli kebaikan

Al Himmah dapat diwujudkan dengan 5 Hal (disingkat 5i):

  1. I’timad
  2. Ijtihad
  3. Ikhlas
  4. Istiqomah
  5. Infa’

I’timad

artinya : Tidak menggantungkan harapan kepada apapun atau siapapun kecuali kepada Alloh.

Hati-hati dalam mengucapkan janji, misalnya : “Saya berjanji akan berubah jika musim hujan sudah selesai” :D, atau “saya berjanji akan memakai jilbab setelah menikah nanti”. Itu adalah contoh menggantungkan harapan kepada selain Alloh. Apakah kita bisa menjamin berapa lama lagi kita akan hidup di dunia? Hanya kepada Allohlah kita layak menggantungkan harapan-harapan kita.

Ijtihad

artinya : Menyukai amal baik yang hanya bisa kita lakukan dengan berjuang.

Berinfak dengan nominal kecil tentu terasa lebih ringan daripada berinfak dengan nominal lebih besar. Infaq Rp. 1000,00 terasa lebih ringan daripada berinfaq Rp. 10.000,00 (tapi ini juga tergantung dengan kondisi masing-masing orang). Banyak amalan baik yang didalamnya membutuhkan perjuangan. Untuk menunaikan sholatpun kadang banyak sekali godaannya, butuh perjuangan untuk melawan rasa malas, rasa berat, harus rela untuk berhenti sejenak dari aktivitas yang sedang kita lakukan. Contoh lainnya lagi, bagi seorang mahasiswa butuh perjuangan untuk bisa menyelesaikan kuliah agar ia bisa membahagiakan orang tuanya. Membahagiakan orang tua juga bagian dari ibadah.ayo..semangat-semangat untuk yang sedang menyelesaikan amanah kuliahnya..

Ikhlas

artinya : Berani membebaskan diri dari pamrih-pamrih dunia yang membelenggu.

Senantiasa meluruskan niat dalam setiap amal hanya untuk beribadah kepada Alloh. Dalam sebuah pernikahan misalnya, manusia dihadapkan pada kenikmatan dunia. Kecantikan/ ketampanan wajah pasangan, kenikmatan harta benda. Hal itu bukanlah kenikmatan yang kekal, karena kecantikan/ketampanan dan harta dapat berkurang seiring berjalannya waktu. Ada tujuan yang lebih mulia yang harus dicapai di sana, karena menikah adalah salah satu sarana ibadah kita kepada Alloh.*teringat komentar seorang teman yang sudah menikah : menikah adalah ibadah yang paling indah* hehe.. provokasi buat yang belum menikah

Istiqomah

artinya : Terus berlari tiada henti dalam beramal baik, amalan tersebut hanya akan berhenti dikerjakan jika ada amalan lain yang lebih baik pahalanya. Menghentikan bacaan Al Qur’an karena melihat sinetron di TV tentu saja berbeda nilainya dengan menghentikan bacaan Al Qur’an karena akan melaksanakan sholat. *semoga bisa dipahami 🙂

Infa’

 artinya : Berusaha menjadikan diri bermanfaat untuk siapapun/ untuk orang lain.

“Khairunnaas anfa uhum linnaas”sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Apapun profesi kita saat ini, murid, guru, mahasiswa, dosen, pengusaha, pedagang, pegawai negeri, trainer, ibu rumah tangga, karyawan kita bisa memberikan manfaat untuk orang lain, sekecil apapun sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. 🙂

Demikianlah 10 kiat (5a+5i) untuk menggapai kesuksesan dan kemuliaan hidup.

Ilmunya sudah..sekarang tinggal mempraktekkannya. Semua butuh proses yang tidak instan, dan yang dinilai oleh Alloh adalah proses yang kita lakukan bukan hasil yang kita capai. 🙂

Semoga Alloh memudahkan langkah kita dalam menapaki perjalanan hidup di dunia ini dan mengantarkan kita kembali ke kampung akhirat dengan selamat. Amin..

*mencoba mengikat ilmu dengan menuliskannya

 

Kisah Sahabat dikutip dari buku “Lelaki Buta dari Surat ‘Abasa”, Lontarkan aku ke Kebun Firdaus (61-72), karya Djamaluddin Ahmad al Buny, terbitan Mitra Pustaka, 2001.
Gambar diambil dr sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s