Belajar menjadi sederhana dan mulia

“Wah, senang ya.. punya teman dari keluarga pejabat no 1 di daerah..”
“Wow keren, ternyata dia anaknya guru besar di kampus favorit ini”
“Dia hebat ya, bisa kuliah di jurusan favorit institut terbaik di negeri ini. Sudah cerdas, jadi wirausahawan sukses pula”
“Betapa beruntungnya dia, menikah dengan anak pejabat di kampus besar itu..”

Itulah beberapa kalimat yang sering terdengar dari orang-orang disekitar kita, atau mungkin juga pernah terlintas dalam hati atau terucap dari lisan kita dalam menilai kesuksesan seseorang. Ya, sebuah penilaian yang didasarkan pada hal-hal “keduniawian” yang berupa keturunan, jabatan, harta benda, kekuasaan, kecerdasan, ataupun kecantikan fisik

Apakah penilaian yang diungkapkan dalam kalimat kekaguman seperti diatas adalah sesuatu yang salah?
Tergantung.. Ini bisa menjadi sesuatu yang “SALAH” jika kita menjadikan hal tersebut sebagai satu-satunya ukuran dalam menilai seseorang, yang akhirnya mempengaruhi sikap kita dalam memperlakukan orang tersebut. Menganggap orang yang punya kecerdasan, kedudukan, jabatan, harta benda, kekuasaan tinggi sebagai orang yang harus lebih dihormati, lebih diperhatikan, atau bahkan memilih bergaul hanya dengan mereka, dibandingkan dengan orang yang kurang dari sisi keduniawian.. Rasanya ini tidak adil..

Di lain sisi, Penilaian dan kekaguman terhadap seseorang yang didasarkan pada nilai-nilai keduniawian menjadi sesuatu yang “TIDAK SALAH” jika kita tetap memiliki keyakinan bahwa “Sesungguhnya kesempurnaan itu hanya milik Allah, semua yang dimiliki manusia berasal dari Allah, semuanya adalah milik Allah. Manusia hanya diberi titipan. Jika suatu saat Allah menghendaki, Allah bisa mengambilnya kembali”.
Selain itu sudah semestinya kita menjadikan kelebihan yang dimiliki oleh orang lain itu sebagai motivasi bagi kita untuk meraih keberhasilan.. Aku juga ingin cerdas dan sukses seperti dia, maka aku harus mau belajar dan rajin berusaha.. Aku ingin jadi orang kaya seperti dia, agar aku bisa banyak bersedekah dan bisa membantu orang yang kekurangan..

Kita perlu berkaca pada sejarah *shirah, yaitu peristiwa turunnya Surat Abasa. Ada hikmah berharga yang bisa kita ambil dari kisah ini, dimana Alloh memberi teguran kepada Rasulullah ketika beliau lebih memilih melayani para pembesar Quraisy daripada menemui seorang buta yang ingin mendapatkan pengajaran dari Rasul. Kisah selengkapnya bisa dibaca di buku Tafsir Fi zhilalil Quran Sayyid Qutb

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, Karena telah datang seorang buta kepadanya.Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, Maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), Sedang ia takut kepada (Allah). Maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, Maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya. Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, Yang ditinggikan lagi disucikan, Di tangan para penulis (malaikat), Yang mulia lagi berbakti” (Abasa 1-16)

Apa reaksi Rasul ketika menerima teguran ini? Malu? Tentu saja tidak. Beliau mengumumkan pengarahan dan celaan yang turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, kepada umatnya, juga pada para pembesar Quraisy. Ini merupakan sesuatu yang besar dan luar biasa serta tidak dapat dilakukan kecuali oleh seorang Rasulullah, dari sisi mana pun kita melihatnya. Sikap lain yang dilakukan rasulullah adalah mempersaudarakan keluarganya dengan para budak seperti menikahkan anak bibinya Zainab binti Jahsy untuk budaknya Zaid bin Haritsah, juga mempersaudarakan antara Hamzah dan budaknya Zaid.

Kisah yang lain adalah teguran Rasulullah kepada Abu Dzar Al Ghifari ra. Ketika itu terjadi peristiwa antara Abu Dzar al-Ghifari ra. dan Bilal bin Rabah ra. sehingga dari mulut Abu Dzar terlontar perkataan, “Wahai anak wanita hitam,” maka Rasulullah saw. sangat marah terhadap ucapan itu. Beliau mengecam Abu Dzar dengan keras dan menakutkan dengan sabdanya, ”Hai Abu Dar, telah dikurangi takaran dan tidak ada keutamaan bagi anak wanita yang berkulit putih dari anak wanita yang berkulit hitam.” (HR Ibnul Mubarak)

Abu dzar sangat terkesan oleh perkataan Rasulullah, kemudian ia letakkan pipinya ke tanah seraya bersumpah bahwa ia tidak akan mengangkatnya sebelum diinjak oleh Bilal, untuk menebus perkataannya yang besar implikasinya itu.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (a1-Hujuraat: 13)

Dari dua kisah dan ayat diatas, sudah sangat jelas bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh harta, kedudukan, kepandaian, maupun keturunan, melainkan oleh ketakwaannya.

Lantas bagaimana dengan sikap dari orang yang bersangkutan, yang mendapat penilaian bahwa dia hebat, keren dan beruntung itu? tentu saja ini menjadi pilihan bagi masing-masing orang.. Mau tetap menunjukkan “kesederhanaan” atau justru merasa “bangga” dengan penilaian tersebut.

Saya pribadi sangat menghargai orang yang memiliki KESEDERHANAAN dibalik kelebihan yang dimiliki.. Tetap sederhana meskipun sebenarnya dari keluarga kaya dan terhormat, tetap sederhana meskipun anak seorang pejabat, tetap sederhana meskipun ia sukses. Bukan justru merasa bangga karena harta, kedudukan yang dimiliki baik oleh dirinya sendiri maupun keluarganya.. Atau bahkan pura-pura memakai topeng agar dapat diterima dalam pergaulan orang-orang disekitarnya, *seperti kisahnya si Mitchie dalam film camp rock 1 :D, yang malu memiliki ibu seorang tukang masak dan mengaku anak pemilik stasiun TV agar bisa diterima oleh teman-temannya..

Sekarang pertanyaannya sudahkah saya menjadi hamba mulia di sisi Allah?
*saatnya merenung dan introspeksi diri.. 😥

terimakasih untuk sahabat2ku, dari kalian aku banyak belajar tentang kesederhanaan.. 🙂

picture taken from here

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s